Dilahirkan dari Bapak & Ibu dari salah satu etnis batak di SUMUT yaitu Batak Karo dari marga Sinulingga (tepatnya 22-Juli-1964), dan dibesarkan dilingkungan militer (TNI-AD) - bapak berprofesi sebagai perwira militer, saat berumur 1 tahun keluarga saya pindah ke Aceh dan praktisnya masa kecil saya dihabiskan di daerah ini dengan berpindah-pindah dibeberapa tempat di wilayah Aceh (Banda Aceh-Mataie-Sigli-Tangse), sekolah dasar saya dimulai dikota Banda Aceh ;pada tahun 1971-tepatnya SD Methodis (hanya 1 tahun)- sampai dengan kelas 4 SD saya lalui di propinsi paling awal Repuplik Indonesia ini dengan pindah di tiga sekolah dasar (di sekolah Negri), karena saya harus menamatkan sekolah dasar saya dan sementara orang tua masih terus berpindah tugas - saya dititipkan dikeluarga paman dari pihak ibu - di ibu kota kabupaten kampung halaman leluhur saya sebuah kota berhawa sejuk (Kabanjahe), akhirnya saya menamatkan SD di Kabanjahe (ibu kota Kab.Karo) tepatnya SD Katolik St.Xaverius (tahun 1976), pada tahun yang sama orang tua saya ditugaskan di Kota Padang Sidempuan dan memulai SMP di kota ini (SMP Negri 1), saat kenaikan kelas keluarga saya diharuskan pindah ke kota Pematang Siantar (dekat danau Toba) praktisnya kelas 2 SMP saya sudah di Sekolah Perguruan Sultan Agung (sekolah asimilasi warga keturunan Tionghoa) dan dikota ini saya menamatkan SMA (tahun 1983) di Perguruan yang sama (ini awal saya mempunyai identitas kota, merasakan menetap di satu kota, mencintai sebuah kota) dan saya berani menyebutkan saya "anak Siantar" (silahkan kunjungi http://www.parsiantar.blogspot.com/) pada tahun yang sama saya masuk Perguruan Tinggi di kota Medan (Universitas Medan Area) mengambil jurusan Teknik Mesin (selesai Desember 1988).
Selama kuliah dikota Medan - kota mudik (atau kota liburan saya) tetap kota Pematang Siantar .
Bapak saya mempunyai hobby bertani , bertenak dan meng "utak-atik mobil tua", keluarga kami mempunyai tanah pertanian dan yang jelas kami tidak pernah memiliki mobil yang dibeli dari dealer, mobil dirumah hasil pembelian diloakan (mobil yang sudah terduduk) diperbaiki kembali oleh sang bapak jadilah mobil ini bisa digunakan untuk ke ladang, anak-anak terpaksa (dipaksa) mengikuti hobby sang bapak, sehingga anak-anak beliau paling tidak merasakan bagaimana jadi petani dan jadi montir, dari salah satu hobby bapak yang membuat saya terbiasa dengan mesin sehingga saya memilih kuliah di jurusan teknik mesin.
Pada awal tahun 1989 setelah memperoleh gelar Sajana Teknik Mesin diharuskan (karena butuh pekerjaan) meninggalkan kota tempat saya menghabiskan masa remaja hingga menginjak dewasa , saya memulai petualangan karier saya di Pulau Jawa (karena terbatasnya lahan karier di pulau Sumatera buat saya), dengan bermodalkan ijazah sarjana teknik mesin - dimulai di Kota Pekalongan pada industri kayu (awal 1989, praktisnya masa pengangguran saya setelah menjadi sarjana relatif singkat) dengan jabatan pertama saya sebagai Kepala Produksi - merangkap Kepala PPIC selama 6 bulan, kemudian hijrah ke Tangerang bekerja di industri lampu natal sebagai Kepala Maintenance selama 1 tahun. Pada pertengahan tahun 1990 saya sudah terdampar pada perusahaan industri keramik di kota yang sama (tepatnya di Kecamatan Pasar Kemis) sebagai Mechanical Engineer - di industri ini saya bertahan sampai tahun 1992. Dan pada tahun yang sama saya bergabung pada industri plastik berbasis extruder dan injection machine (dengan produk building material: pipe&fitting) berlokasi di Bekasi-Cibitung dimulai dari karier Engineer- selanjutnya ditugaskan di Ngoro-Jawa Timur meng-surpervisi project pembangunan pabrik (project leader) -selanjutnya menetap selama 5 tahun dikota ini diperusahaan yang sama sebagai Kepala Maintenance.
Dan saat berkarier dikota ini (Ngoro Ja-Tim) saya memutuskan berumah tangga tepatnya tahun 1996 - mempersunting putri Jogja (Elizabeth Dian Nugrahaeni) yang besar di Jakarta dari ayah seorang abdi negara / pensiunan POLRI (latar belakang sama-sama anak kolong) dan satu tahun kemudian kami mendapatkan putra pertama (Tahun 1997, diberi nama Fernando Bagasta Sinulingga) dan satu tahun lagi mendapatkan putra ke 2 (Tahun 1998, diberi nama Julius Yoga Inganta Sinulingga)- kata teman-teman: kejar target (maklum saat berumah tangga usia saya menginjak 32 tahun), dan saat berkarier dikota ini saya menyelesaikan Program Pasca Sarjana - S2 (MM-STIE ABI) tepatnya di kota Surabaya, tahun 2000 saya dikembalikan ke Cibitung - Bekasi dan melanjutkan karier saya sebagai profesional di bidang manufacture (sampai mengepalai satu divisi) diperusahaan yang sama (PT. Wavin Duta Jaya - http://www.wavin.co.id/).
Tahun 2004 kami dikaruniai putra ketiga (diberi nama Daniel Agita Sinulingga) -tepatnya saya saat ini "bapak dari 3 anak laki-laki".
Dan pada tahun 2005 saya memulai membangun bisnis keluarga bersama dengan istri, juga tidak jauh dari profesi saya (bidang manufacture) yaitu industri AMDK dengan merek dagang Meciho dibawah bendera CV.Bayos (silahkan kunjungi http://www.meciho.indonetwork.co.id/ dan http://www.meciho.blogspot.com/), belajar dari membangun bisnis sendiri saat ini (saya dan istri) mejadi konsultan untuk industri AMDK disamping profesi saya sebagai Manager profesional di bidang manufacture, lebih tepatnya saya menjadi "advisor" bisnis istri saya (istri sebagai owner sekaligus konsultan yang telah mengkonsultani beberapa perusahaan AMDK). Jadilah saya seorang "profesinal yang merangkap eterpreneur".
Pada tahun 2007 perusahaan tempat saya bekerja membangun sebuah foundation (yayasan) yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan (khususnya dalam bidang sanitasi/kesehatan lingkungan) saya mengambil bagian sebagai salah satu ketua pelaksananya, hitung-hitung sebagai pengabdian saya kepada orang lain (social community).
Dan semenjak bergabung diperusahaan ini selalu terlibat dalam pengembangan ekonomi karyawan melalui KOPKAR, sebagai pendiri KOPKAR pada anak perusahaan di Ngoro Jawa Timur, dan sampai saat ini tercatat sebagai penasehat KOPKAR dan mewakili manajemen duduk dalam kepengurusan KOPKAR. Hasil kerja pengurus KOPKAR PT.Wavin Duta Jaya menghantarkan KOPKAR ini menjadi KOPKAR terbaik di Kabupaten Bekasi dan saat ini KOPKAR mengembangkan ekonomi kayawan dengan melatih para istri (keluarga karyawan) untuk bisa meciptakan peluang ekonomi (penghasilan kedua selain gaji sebagai karyawan).
Tahun 2000 : karena tidak bisa melupakan kenangan dengan masa remaja saya sebagai mantan Anak Rindam Siantar bersama teman-teman mantan anak Rindam memprakasai pendirian perkumpulan "mantan anak Rindan Siantar" se JABODETABEK bertujuan untuk menjalin ikatan silahturami sesama teman masa kecil, setahun kemudian kumpulan ini telah berubah menjadi Koperasi mantan anak Rindan Siantar yang disingkat "KOMARIS" dengan bisnis utamanya melakukan kerjasama pemasaran AMDK produksi CV.Bayos (mensinergikan kekuatan bisnis sendiri dengan kemampuan bisnis teman-teman).
Karena cintanya saya dengan kota Pematangsiantar saya dan teman-teman masa kecil di Siantar sering melakukan pertemuan rutin warung kopi disekitar Jakarta untuk berdiskusi tentang kota yang sama-sama kami cintai dan juga Danau Toba, yang berujung melalui diskusi didunia maya dan warung kopi "tentang keprihatinan atas kerusakan Danau Toba" kami dan teman-teman berhasil mendirikan komunitas penyelamat Danau Toba - "SAVE LAKE TOBA" yang lahir pada awal tahun 2009.
Dari riwayat kehidupan: "saya terbiasa dengan perbedaan, terbiasa sebagai pekerja dan leader". Masa kecil saya tertempa dengan disiplin militer dan kerasnya kehidupan anak kolong (istilah buat anak tentara) juga kerja keras, dan saat kecil berpindah-pindah kota dengan beragam budaya& bahasa daerah dan masa remaja hingga menjelang dewasa dihabiskan dikota yang unik "Kota Pematangsiantar" dan sampai saat ini saya sangat mencintai kota ini karena kota ini penuh dengan perbedaan (pluralisme) - kota ini dihuni dari berbagai etnis: batak, melayu, jawa,tionghoa, tamil, india, dan berdiri berbagai rumah ibadah (Mesjid, Gereja, Klenteng/Vihara, kuil,dll) tanpa pernah ada yang dibakar (semoga tidak pernah terjadi) dan di kota ini perbedaan itu hilang yang ada "persahabatan ditengah perbedaan" ini tercermin juga dari riwayat pemimpin kota (Walikotanya) sepanjang masa yang terdiri dari berbagai etnis dan Agama, hal yang saat ini mustahil disaksikan dikota lain yang kental dengan heroisme putra daerah asli dan agama mayoritas (seolah kembali lagi ke masa sebelum Sumpah Pemuda di dengungkan) dan dikota ini partai yang mengusung bendera Agama mengalami kekalahan, bukan berarti penghuni kota ini tidak beragama (semoga kota ini tidak pernah mengulangi riwayat kota-kota di timur Indonesia yang hancur karena perbedaan Agama). Dan dikota ini saya merasakan perayaan Agama di rayakan oleh semua umat Agama dan saya merasakan perayaan Maulid Nabi dirayakan oleh anak yang bukan beragama Islam dan dikota ini juga saya menyaksikan perayaan Natal dihadiri oleh anak yang bukan Kristiani dan dikota ini saya menyaksikan anak dari keluarga Muslim datang dan mengucapkan "selamat Natal" kepada tetangganya yang Kristiani dan anak keluarga Kristiani datang kerumah tetangganya yang muslim untuk mengucapkan "selamat hari raya Idul Fitri" dan saya merasakan meriahnya "perayaan Imlek" dikota ini dan juga merasakan perayaan "hari raya Devawali" (perayaan dari etnis keturunan Tamil). Kota ini menggambarkan pluralisme (Indonesia yang sebenarnya yang "berbhineka tunggal ika").
Dan yang jelas saya juga menikahi wanita dari suku yang berbeda; kata teman dekat saya dalam diri saya tercermin "bhineka tunggal ika" (keluarga besar saya juga terdiri dari berbagai agama, dalam satu keluarga terbiasa dengan agama yang berbeda dan perkawinan dengan suku yang berbeda).
Teman-teman dekat saya mengkalim diri saya "mencintai pluralisme" , perbedaan itu indah kalau kita menyadari bahwa kita memulai kehidupan didunia ini dari perbedaan (bapak kita laki-laki dan ibu kita perempuan), kalau tidak ada perbedaan kita tidak pernah hidup dan tidak berkembang (itu diajarkan guru kimia saya sewaktu di SMA).
Perbedaan tidak harus dimusnahkan tetapi harus disikapi secara positip:
- Presiden Raymond Magsaysay Award Foundation, Carmencita T Abella, dalam surat elektroniknya kepada Maarif Institute tanggal 31 Juli 2008 menyatakan, Syafii Maarif dipilih karena komitmen dan kesungguhannya membimbing umat Islam untuk meyakini dan menerima toleransi dan pluralisme sebagai basis keadilan dan harmoni di Indonesia, bahkan dunia. (Kompas, minggu 5 Oktober 2008).
- Beberapa saat sesudah penobatan Paus Yohanes Paulus II ia mengunjungi Polandia dan pemerintah takut padanya tetapi tidak dapat juga menolak putra besar Polandia ini; namun, ternyata di Polandia dia tidak berteriak mengeritik atau mencaci maki pemerintah atau paham tertentu, Ia hanya berpesan pada bangsanya :"jangan takut", jangan takut berjuang bagi perdamaian, bagi kebaikan bersama, bagi kepentingan umum. Dan inilah yang menjadi inspirasi segala pembaharuan kemudian yang menjadi begitu mulus. Ia melawan kekerasan bukan dengan kekerasan tapi dengan kelembutan dan kemendalaman visi (dikutip dari buku Terry Th Ponomban, Pr :"In Loving Memory of John Paul II")
Dan saya pikir apa yang didapatkan dari pemikiran Prof.DR. Syafii Maarif sudah lama terjadi di Pematang Siantar dan ini akan terkikis dengan sendirinya apabila kota yang sudah mempunyai dasar kehidupan menerima toleransi dan pluralisme sebagai basis keadilan dan harmoni di Indonesia tidak memiliki pemimpin yang berbasis seperti pemikiran Prof.DR. Syafii Maarif tsb, inilah yang membuat saya mencintai kota ini begitu juga umumnya generasi seumur saya yang pernah hidup di kota ini dan pernah merasakan kehidupan yang tidak terkotak-kotak karena agama yang dianut dan karena terlahir dari suku yang berbeda. Dan saya pikir pemimpin juga harus berpikir plural seperti apa yang dikemukakan Paus Yohanes Paulus II: "jangan takut berjuang bagi perdamaian, bagi kebaikan bersama, bagi kepentingan umum.
Kedua pemikiran diatas membuat cita-cita saya menjadi sederhana : "menjadi pemimpin yang bisa menjembatani perbedaan dan berjuang bagi perdamaian & kebaikan bersama".
(Karyanta J Sinulingga)