Selasa, 26 Mei 2009

Catatan Saat si Sulung Bagas 12 tahun ( Kasih )


Hari ini tepatnya 26 Mei 2009 ada ingatan yang mundur ke 12 tahun yang lalu pada tanggal yang sama tahun 1997 di hari menjelang siang ada sebuah perubahan dalam hidup ini, di hari menjelang siang telah merubah status dari seorang suami plus menjadi seorang bapak.

Hari ini adalah si sulung Fernando Bagasta Sinulingga putra pertama yang genap berusia 12 Tahun, ada kenangan yang tidak terlupakan : setelah berpacaran lebih 7 tahun dengan ibu yang melahirkan Bagas (nama kecil si sulung) dan memutuskan untuk mengikat janji didepan altar sebuah gereja Katholik di kawasan Cileduk Tangerang - Banten (gereja ini sudah ditutup karena tidak ada ijin) : "tidak ada yang dapat memisahkan kecuali maut" itu janji di didepan altar dan buah janji itu adalah anugerah Tuhan yang baik, tidak menunggu terlalu lama Tuhan telah memberikan seorang anak laki-laki, yang diberikan nama Fernando Bagasta Sinulingga memang ada yang menyebutkan "apalah arti sebuah nama" tapi umumnya orang tua (khususnya Indonesia) nama masih punya arti minimal merupakan sebuah harapan, begitu juga dengan nama yang diberikan untuk si sulung mengandung sebuah arti dan harapan: kesucian dan mencerminkan ada mengalir darah Jawa dan ada keturunan Batak (Karo). Dan harapan nya : menjadi baik dan menjadi tempat orang mengadu (pemimpin yang bijaksana), kalaupun dia tidak memimpin dalam artian sebagai pemimpin formal minimal dia bisa memimpin adik-adik nya kelak dan memimpin hati ibu dan bapaknya tenteram dengan kehadirannya. Dari nama itu juga tercermin menyatukan banyak perbedaan ada da budaya bersatu: Bagas biasanya dipakai orang Jawa dan ta biasa dipakaim orang Karo dan yang jelas dibelakang nama ada sebuah marga. Dan nama itu menjadi harapan bisa menyatukan perbedaan - perbedaan itu.

Si sulung tumbuh sehat dan kuat dan banyak pengalaman sebagai bapak / ibu muda membesarkan anak, mulai panik kalau dia terserang sakit, sedikit adu mulut karena saling merasa yang paling hebat mendidik anak. Ini lah belajar membangun janji didepan altar, bahwa ada perbedaan yang kita miliki mulai dari budaya, kebiasaan waktu kecil, kadang timbul emosi. Dalam rumah tangga perbedaan itu merupakan sebuah bunga kehidupan perkawinan, dan membuat perkawinan itu menjadi indah.

Setelah 12 tahun berlalu sekarang ada sebuah pengalaman yang bisa dicatat "Perbedaan membuat sebuah kebahagiaan karena ada cinta dan kasih" kita menyadari kita dilahirkan karena perbedaan : ibu kita seorang perempuan dan bapak kita seorang laki-laki dan karena perbedaan ini maka lahirlah kita dan ternyata saat kita bertemu dengan pasangan kita juga banyak perbedaan yang muncul dan ketika perbedaan kita sepakati menjadi sebuah pengertian yang masing-masing pihak bisa menerima kita bisa menyatukan janji kita untuk mengikat kesebuah kehidupan bersama dan semua ini bisa kita lakukan dengan dasar sebuah cinta dan kasih, inilah ideologi sebuah perkawinan. Dan Tuhan juga menciptakan manusia dengan perbedaan mulai dari nenek moyang manusia "Adam & Hawa". Dan karena perbedaan itu mereka dilemparkan Tuhan Kedunia dan Tuhan memberikan mereka akal dan pikiran dan kita inilah keturunannya yang saat ini dengan berbagai bangsa dan ras.



Dalam kehidupan kita berkarier dan kehidupan politik dinegeri ini kita melihat banyak benturan karena masing-masing orang atau kelompok membesarkan perbedaan, dikantor kita mulai membesarkan perbedaan berdasarkan alumni dan didunia politik kita mulai membesarkan perbedaan dengan ideologi dan yang lebih irononisnya lagi kita mulai dengan membesarkan perbedaan berdasakan Suku , Agama & Ras (SARA). Dan yang kita saksikan setiap politikus berbicara sesuai dengan kepentingan sesaat, saat dia mencalonkan diri menjadi presiden atau wakil presiden dan partainya yang berbasis agama kalah dia bicara "saya tidak memusuhi agama dan golongan lain" tetapi saat dia berkampanye ingin memenangkan partainya dia berkata kita harus menegakkan ideologi agama tanpa memikirkan hak orang orang lain.


Di negeri yang kita cintai ini (Indonesia) yang sudah bisa kita saksikan dengan jumlah suku ratusan dan agama yang dianut berbeda-beda dan para pendiri negeri ini (founding father) jelas-jelas memnciptakan ideologi berdasarkan Pancasila dan dengan "Bhineka Tnggal Ika" mereka menyatakan berbeda-beda tetapi tetap satu kenapa kita sebagai generasi penerus bangsa membuat ideologi baru, sehingga kita harus berkelahi untuk membela ego kita.


12 tahun si sulung merefleksikan sebuah perbedaan bisa disatukan karena ada komitmen "cinta dan kasih" seandainya negeri ini penuh dengan "cinta dan kasih" kita bisa membuat negeri ini mejadi makmur dan menjadi tempat semua orang bisa hidup.

Dan ada pengalaman masa remaja ketika hidup di Kota Pematangsiantar, kota ini bisa hidup dengan penuh damai karena perbedaan, kota ini bisa hidup dengan banyak etnis dan agama, memang ada gesekan kecil seperti kita hidup berumah tangga tetapi hanya sebagai pengindah kehidupan yang berbeda, tapi beberapa bulan yang lalu menyaksikan kehidupan di kota ini sudah terlihat jelas perbedaan di mulai dibesarkan, dulu kalau semua orang dikota ini bisa duduk di kedai kopi dan bicara politik dengan ideologi yang sama "Pancasila" sekarang mereka duduk dengan bicara ideologi yang berbeda sehingga sendi-sendi kehidupan yang lama bisa hidup dengan perbedaan kemungkinan akan terkikis dengan penonjolan perbedaan. Dan harapan semua orang mungkinkah kota ini akan kembali seperti dulu denga penghuni yang berbeda secara suku dan agama tetapi bisa menyatukan cita kasihnya dengan sebuah ideologi sama dengan menganut "Bhineka Tunggl Ika". Dan harapan kota ini bisa tetap menjadi contoh berkehidupan yang berbeda tetapi bisa saling mengerti ditengah hiruk pikuknya daerah lain menonjokan ideologi suatu agama untuk dipatuhi oleh orang lain yang tidak meyakininya, sementara daerah itu masih dalam wilayah Indonesia yang dihuni oleh banyak perbedaan Agama dan budaya.

Dan keyakinan seperti tangga, untuk naik kelantai berikutnya kita butuh anak tangga yang tingginya berbeda (ada trap) dan ini yang membuat kita tidak tergelincir seihingga kita sampai kesebuah ketinggian (kesempurnaan hidup). Dan dalam kehidupan baik berumah tangga, berkarier dan berpolitik kita butuh perbedaan tetapi kalau perbedaan itu dibuat seperti anak tangga kita percaya perbedaan itu merupakan sebuah anugerah Tuhan yang mencintai umatnya kita akan memcapai sebuah ketinggian yang luhur. Anak tangga adalah sebuah ideologi atau kesepakatan bersama bahwa ada yang mayoritas dan ada yang minoritas (gambaran anak tangga) yang berlandaskan kepada "kasih" atau dalam bahasa Batak Toba "holong".

Jumat, 08 Mei 2009

Dialog : Visi kepemimpinan Siantar - Simalungun 02 Mei 2009 di Siantar Hotel Pematang Siantar

Catatan seorang Jurnalis (Alvin) :


Marsipature hutana be. Slogan itu pernah sangat kesohor di ranah Tapanuli. Pencetusnya adalah mantan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Alm Raja Inal Siregar. Tujuannya, mengingatkan para Batak perantau sukses agar selalu ingat membangun kampung halaman. Bahkan, saking kesohornya slogan Marsipature Hutana be itu, sempat dicatut menjadi nama perjudian toto gelap alias togel: Martabe.
Walau tak ada kaitannya dengan Marsipature Hutana Be, tapi acara temu kangen diskusi dan dialog bertema Visi dan Misi Kepemimpinan Siantar-Simalungun, bisalah dikait-kaitkan dengan Batak perantau. Pasalnya, selain digagas oleh anak-anak Siantar alias Siantarman perantau, tujuannya adalah membangun Kota Siantar dan Kabupaten Simalungun sesuai keinginan masyarakat.
Temu kangen itu dihadiri seratusan orang warga Siantar dan Simalungun dari latarbelakang kehidupan berbeda. Ada pegawai negeri, pegawai swasta, pegawai bank, ibu rumah tangga, wiraswasta, aktivis, serta para pemerhati. Diskusi juga disuguhi kopi dan tambul-tambul ringan. Tapi tak ada pejabat yang hadir.
Awalnya, acara benar-benar menjadi temu kangen karena yang hadir sudah mewakili generasinya—muda dan tua. Sebagian besar mereka saling kenal namun sudah lama tak bersua. Ada yang bernostalgia lalu tertawa-tawa.
Acara diskusi digagas Karyanta Sinulingga dan Parlin Sinaga dengan fasilitator Edisamsi Silitonga. Ketiganya--- bersama kru--- datang dari Jakarta untuk mengakomodir ide-ide segar yang bisa menjadikan Kota Siantar seperti yang diinginkan masyarakat, bukan keinginan pemimpin.
“Kalau ingat zaman sekolah dulu, wah seru. Cabut sekolah nongkrongnya di SMA 3. Malamnya ngebut naik kereta mengitari Lapangan Adam Malik. Kalau standar kereta belum menyentuh aspal, belum mantaplah. Setelah itu makan jagung bakar,” kata Karyanta Sinulingga berapi-api kepada rekan-rekannya sebelum acara diskusi berlangsung.
Karyanta adalah anak seorang tentara yang dulunya bertugas di Rindam. Lelaki yang lahir 45 tahun silam, berkulit putih ini merupakan alumni SMP Sultan Agung. Sekarang Karyanta mengelola bisnis di Jakarta. Dia juga bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta, serta merangkap sebagai seorang konsultan untuk urusan air mineral isi ulang.
Sementara Parlin Sinaga adalah pebisnis bidang informasi dan teknologi (IT) di Jakarta. Kata Parlin, diskusi yang digelar berawal dari ngopi bareng di Jakarta. Selanjutnya obrolan itu ditularkan melalui dunia maya seperti face book yang sedang ngetren. Ternyata sambutan di dunia maya ini malah lebih menarik. Banyak anak-anak Siantar yang punya ide segar untuk menjadikan kota Siantar sesuai keinginan mereka.
“Ini kepedulian orang Siantar terhadap kotanya,” kata Parlin Sinaga sebelum memperkenalkan diri saat acara diskusi hendak digelar. Untuk itulah, kata Parlin, Siantar punya potensi untuk dikembangkan tanpa menghilangkan ciri khasnya.
Ketika acara diskusi dibuka Edisamsi Silitonga--- dosen mengajar di sejumlah universitas di Jakarta--- sangat banyak opini dan aspirasi yang dilontarkan kepada dua orang anak Siantar perantau itu; Karyanta Sinulingga dan Parlin Sinaga. Semisal seperti yang dikatakan Londut Silitonga seorang pegawai bank di Siantar yang menginginkan Kota Siantar menjadi kota pendidikan. Untuk itu Londut meminta kepada pemimpin yang akan datang memikirkan usulannya.
Lain lagi opini yang dilontarkan Imran, warga Jalan Pattimura. Katanya, Kota Siantar memiliki nilai sejarah luar biasa. Di kota inilah Oeang Republik Indonesia pertama di wilayah Sumatera dicetak oleh Gortap Sitompul, orang Tarutung yang hijrah ke Kota Siantar. Selain itu kota ini juga memiliki keberagaman suku.
“Lihat saja nama kampung yang ada di kota ini seperti Kampung Melayu, Kampung Kristen, bahkan sampai kampung Keling pun ada. Ini artinya, Siantar punya sejarah. Tapi apa visi dan misi seorang pemimpin untuk menjadikan kota ini menjadi kota idaman. Itu yang harus kita pikirkan. Saya sangat setuju jika kota ini dijadikan kota pendidikan, tapi tentu itu tak lepas dari kebijakan seorang pemimpinnya,” kata ayah 2 anak ini.
Sangat banyak memang opini yang dilemparkan. Siti Hawa, seorang ibu rumah tangga menginginkan upah buruh perempuan bisa lebih sejahtera. “Lihat para wanita petugas kebersihan di kota ini. Mulai pukul empat pagi mereka sudah bekerja. Tapi upah yang mereka dapatkan masih jauh dari harapan,” kata ibu berjilbab ini.
Sedangkan Samsudin Ginting mengidolakan pemimpin bermoral, baik, jujur, tidak obral janji, dan bekerja berdasarkan potensi yang ada. “Seorang pemimpin harus patuh terhadap Undang-undang Dasar 45. Itu tak boleh ditawar!” pungkasnya.
Ya! Sangat banyak usulan yang dilontarkan. Seperti yang diusulkan wartawan koran ini, pemimpin ke depan yang diinginkan juga harus memikirkan para abang becak yang selama ini nasibnya selalu dikebiri. Pasalnya, empat tahun lalu ada wacana hendak memberangus keberadaan becak BSA dari kota ini. Parahnya, wacana pemberangusan itu malah datang dari wakil rakyat yang notabene dipilih oleh rakyat.
Padahal jika merunut sejarah, becak BSA hadir di kota ini sebagian besar karena dibawa dari Pulau Jawa dengan kapal Tampomas oleh anak-anak Siantar. Hanya sebagian kecil yang ditinggalkan Belanda. Artinya, jika dikelola dengan profesional, becak BSA tentu bisa menopang dunia pariwisata Siantar dan Simalungun sebagai pintu gerbang menuju kota turis, Parapat. Secara langsung punci-pundi PAD kota ini semakin menggunung.
Harus diakui, acara dialog dan diskusi memang tidak berkembang. “Kita tidak perbolehkan kritik. Kita akan batasi. Kita hanya ingin mendengar apa yang diinginkan. Memang orang yang hadir belum tentu mewakili aspirasi warga Siantar dan Simalungun. Tapi setidaknya kita sudah punya pegangan,” kata Karyanta sembari berjanji hasilnya akan dirangkum menjadi suatu visi dan misi kepemimpinan yang memang bermanfaat untuk ditindaklanjuti pada diskusi selanjutnya.
“Siantar memang punya potensi sebagai kota jasa. Namun, untuk memberdayakannya tidak bisa lepas dari siapa pemimpinnya. Ke depan kita perlu rumuskan bagaimana kriteria seorang pimpinan di Kota Siantar dan Simalungun ini. Bisa jadi kita akan buat seminar dengan mengundang pakar-pakar,” sambungnya.
Diskusi memang tanpa silang pendapat. Tapi harus diakui banyak pemikiran tentang sosok pemimpin yang diidam-idamkan. Mulai harus bermoral, jujur, cerdas, tidak korup, harus dekat dengan rakyat, dan lain sebagainya. Begitupun, diskusi belum mengerucut, belum diketahui kemana Siantar ini hendak dibawa.
(*)