
Hari ini adalah si sulung Fernando Bagasta Sinulingga putra pertama yang genap berusia 12 Tahun, ada kenangan yang tidak terlupakan : setelah berpacaran lebih 7 tahun dengan ibu yang melahirkan Bagas (nama kecil si sulung) dan memutuskan untuk mengikat janji didepan altar sebuah gereja Katholik di kawasan Cileduk Tangerang - Banten (gereja ini sudah ditutup karena tidak ada ijin) : "tidak ada yang dapat memisahkan kecuali maut" itu janji di didepan altar dan buah janji itu adalah anugerah Tuhan yang baik, tidak menunggu terlalu lama Tuhan telah memberikan seorang anak laki-laki, yang diberikan nama Fernando Bagasta Sinulingga memang ada yang menyebutkan "apalah arti sebuah nama" tapi umumnya orang tua (khususnya Indonesia) nama masih punya arti minimal merupakan sebuah harapan, begitu juga dengan nama yang diberikan untuk si sulung mengandung sebuah arti dan harapan: kesucian dan mencerminkan ada mengalir darah Jawa dan ada keturunan Batak (Karo). Dan harapan nya : menjadi baik dan menjadi tempat orang mengadu (pemimpin yang bijaksana), kalaupun dia tidak memimpin dalam artian sebagai pemimpin formal minimal dia bisa memimpin adik-adik nya kelak dan memimpin hati ibu dan bapaknya tenteram dengan kehadirannya. Dari nama itu juga tercermin menyatukan banyak perbedaan ada da budaya bersatu: Bagas biasanya dipakai orang Jawa dan ta biasa dipakaim orang Karo dan yang jelas dibelakang nama ada sebuah marga. Dan nama itu menjadi harapan bisa menyatukan perbedaan - perbedaan itu.
Si sulung tumbuh sehat dan kuat dan banyak pengalaman sebagai bapak / ibu muda membesarkan anak, mulai panik kalau dia terserang sakit, sedikit adu mulut karena saling merasa yang paling hebat mendidik anak. Ini lah belajar membangun janji didepan altar, bahwa ada perbedaan yang kita miliki mulai dari budaya, kebiasaan waktu kecil, kadang timbul emosi. Dalam rumah tangga perbedaan itu merupakan sebuah bunga kehidupan perkawinan, dan membuat perkawinan itu menjadi indah.
Setelah 12 tahun berlalu sekarang ada sebuah pengalaman yang bisa dicatat "Perbedaan membuat sebuah kebahagiaan karena ada cinta dan kasih" kita menyadari kita dilahirkan karena perbedaan : ibu kita seorang perempuan dan bapak kita seorang laki-laki dan karena perbedaan ini maka lahirlah kita dan ternyata saat kita bertemu dengan pasangan kita juga banyak perbedaan yang muncul dan ketika perbedaan kita sepakati menjadi sebuah pengertian yang masing-masing pihak bisa menerima kita bisa menyatukan janji kita untuk mengikat kesebuah kehidupan bersama dan semua ini bisa kita lakukan dengan dasar sebuah cinta dan kasih, inilah ideologi sebuah perkawinan. Dan Tuhan juga menciptakan manusia dengan perbedaan mulai dari nenek moyang manusia "Adam & Hawa". Dan karena perbedaan itu mereka dilemparkan Tuhan Kedunia dan Tuhan memberikan mereka akal dan pikiran dan kita inilah keturunannya yang saat ini dengan berbagai bangsa dan ras.
Dalam kehidupan kita berkarier dan kehidupan politik dinegeri ini kita melihat banyak benturan karena masing-masing orang atau kelompok membesarkan perbedaan, dikantor kita mulai membesarkan perbedaan berdasarkan alumni dan didunia politik kita mulai membesarkan perbedaan dengan ideologi dan yang lebih irononisnya lagi kita mulai dengan membesarkan perbedaan berdasakan Suku , Agama & Ras (SARA). Dan yang kita saksikan setiap politikus berbicara sesuai dengan kepentingan sesaat, saat dia mencalonkan diri menjadi presiden atau wakil presiden dan partainya yang berbasis agama kalah dia bicara "saya tidak memusuhi agama dan golongan lain" tetapi saat dia berkampanye ingin memenangkan partainya dia berkata kita harus menegakkan ideologi agama tanpa memikirkan hak orang orang lain.
Di negeri yang kita cintai ini (Indonesia) yang sudah bisa kita saksikan dengan jumlah suku ratusan dan agama yang dianut berbeda-beda dan para pendiri negeri ini (founding father) jelas-jelas memnciptakan ideologi berdasarkan Pancasila dan dengan "Bhineka Tnggal Ika" mereka menyatakan berbeda-beda tetapi tetap satu kenapa kita sebagai generasi penerus bangsa membuat ideologi baru, sehingga kita harus berkelahi untuk membela ego kita.
12 tahun si sulung merefleksikan sebuah perbedaan bisa disatukan karena ada komitmen "cinta dan kasih" seandainya negeri ini penuh dengan "cinta dan kasih" kita bisa membuat negeri ini mejadi makmur dan menjadi tempat semua orang bisa hidup.
Dan ada pengalaman masa remaja ketika hidup di Kota Pematangsiantar, kota ini bisa hidup dengan penuh damai karena perbedaan, kota ini bisa hidup dengan banyak etnis dan agama, memang ada gesekan kecil seperti kita hidup berumah tangga tetapi hanya sebagai pengindah kehidupan yang berbeda, tapi beberapa bulan yang lalu menyaksikan kehidupan di kota ini sudah terlihat jelas perbedaan di mulai dibesarkan, dulu kalau semua orang dikota ini bisa duduk di kedai kopi dan bicara politik dengan ideologi yang sama "Pancasila" sekarang mereka duduk dengan bicara ideologi yang berbeda sehingga sendi-sendi kehidupan yang lama bisa hidup dengan perbedaan kemungkinan akan terkikis dengan penonjolan perbedaan. Dan harapan semua orang mungkinkah kota ini akan kembali seperti dulu denga penghuni yang berbeda secara suku dan agama tetapi bisa menyatukan cita kasihnya dengan sebuah ideologi sama dengan menganut "Bhineka Tunggl Ika". Dan harapan kota ini bisa tetap menjadi contoh berkehidupan yang berbeda tetapi bisa saling mengerti ditengah hiruk pikuknya daerah lain menonjokan ideologi suatu agama untuk dipatuhi oleh orang lain yang tidak meyakininya, sementara daerah itu masih dalam wilayah Indonesia yang dihuni oleh banyak perbedaan Agama dan budaya.
Dan keyakinan seperti tangga, untuk naik kelantai berikutnya kita butuh anak tangga yang tingginya berbeda (ada trap) dan ini yang membuat kita tidak tergelincir seihingga kita sampai kesebuah ketinggian (kesempurnaan hidup). Dan dalam kehidupan baik berumah tangga, berkarier dan berpolitik kita butuh perbedaan tetapi kalau perbedaan itu dibuat seperti anak tangga kita percaya perbedaan itu merupakan sebuah anugerah Tuhan yang mencintai umatnya kita akan memcapai sebuah ketinggian yang luhur. Anak tangga adalah sebuah ideologi atau kesepakatan bersama bahwa ada yang mayoritas dan ada yang minoritas (gambaran anak tangga) yang berlandaskan kepada "kasih" atau dalam bahasa Batak Toba "holong".
