Catatan seorang Jurnalis (Alvin) :
Marsipature hutana be. Slogan itu pernah sangat kesohor di ranah Tapanuli. Pencetusnya adalah mantan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Alm Raja Inal Siregar. Tujuannya, mengingatkan para Batak perantau sukses agar selalu ingat membangun kampung halaman. Bahkan, saking kesohornya slogan Marsipature Hutana be itu, sempat dicatut menjadi nama perjudian toto gelap alias togel: Martabe.
Walau tak ada kaitannya dengan Marsipature Hutana Be, tapi acara temu kangen diskusi dan dialog bertema Visi dan Misi Kepemimpinan Siantar-Simalungun, bisalah dikait-kaitkan dengan Batak perantau. Pasalnya, selain digagas oleh anak-anak Siantar alias Siantarman perantau, tujuannya adalah membangun Kota Siantar dan Kabupaten Simalungun sesuai keinginan masyarakat.
Temu kangen itu dihadiri seratusan orang warga Siantar dan Simalungun dari latarbelakang kehidupan berbeda.
Awalnya, acara benar-benar menjadi temu kangen karena yang hadir sudah mewakili generasinya—muda dan tua. Sebagian besar mereka saling kenal namun sudah lama tak bersua. Ada yang bernostalgia lalu tertawa-tawa.
Acara diskusi digagas Karyanta Sinulingga dan Parlin Sinaga dengan fasilitator Edisamsi Silitonga. Ketiganya--- bersama kru--- datang dari Jakarta untuk mengakomodir ide-ide segar yang bisa menjadikan Kota Siantar seperti yang diinginkan masyarakat, bukan keinginan pemimpin.
“Kalau ingat zaman sekolah dulu, wah seru. Cabut sekolah nongkrongnya di SMA 3. Malamnya ngebut naik kereta mengitari Lapangan Adam Malik. Kalau standar kereta belum menyentuh aspal, belum mantaplah. Setelah itu makan jagung bakar,” kata Karyanta Sinulingga berapi-api kepada rekan-rekannya sebelum acara diskusi berlangsung.
Karyanta adalah anak seorang tentara yang dulunya bertugas di Rindam. Lelaki yang lahir 45 tahun silam, berkulit putih ini merupakan alumni SMP Sultan Agung. Sekarang Karyanta mengelola bisnis di Jakarta. Dia juga bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta, serta merangkap sebagai seorang konsultan untuk urusan air mineral isi ulang.
Sementara Parlin Sinaga adalah pebisnis bidang informasi dan teknologi (IT) di Jakarta. Kata Parlin, diskusi yang digelar berawal dari ngopi bareng di Jakarta. Selanjutnya obrolan itu ditularkan melalui dunia maya seperti face book yang sedang ngetren. Ternyata sambutan di dunia maya ini malah lebih menarik. Banyak anak-anak Siantar yang punya ide segar untuk menjadikan kota Siantar sesuai keinginan mereka.
“Ini kepedulian orang Siantar terhadap kotanya,” kata Parlin Sinaga sebelum memperkenalkan diri saat acara diskusi hendak digelar. Untuk itulah, kata Parlin, Siantar punya potensi untuk dikembangkan tanpa menghilangkan ciri khasnya.
Ketika acara diskusi dibuka Edisamsi Silitonga--- dosen mengajar di sejumlah universitas di Jakarta--- sangat banyak opini dan aspirasi yang dilontarkan kepada dua orang anak Siantar perantau itu; Karyanta Sinulingga dan Parlin Sinaga. Semisal seperti yang dikatakan Londut Silitonga seorang pegawai bank di Siantar yang menginginkan Kota Siantar menjadi kota pendidikan. Untuk itu Londut meminta kepada pemimpin yang akan datang memikirkan usulannya.
Lain lagi opini yang dilontarkan Imran, warga Jalan Pattimura. Katanya, Kota Siantar memiliki nilai sejarah luar biasa. Di kota inilah Oeang Republik Indonesia pertama di wilayah Sumatera dicetak oleh Gortap Sitompul, orang Tarutung yang hijrah ke Kota Siantar. Selain itu kota ini juga memiliki keberagaman suku.
“Lihat saja nama kampung yang ada di kota ini seperti Kampung Melayu, Kampung Kristen, bahkan sampai kampung Keling pun ada. Ini artinya, Siantar punya sejarah. Tapi apa visi dan misi seorang pemimpin untuk menjadikan kota ini menjadi kota idaman. Itu yang harus kita pikirkan. Saya sangat setuju jika kota ini dijadikan kota pendidikan, tapi tentu itu tak lepas dari kebijakan seorang pemimpinnya,” kata ayah 2 anak ini.
Sangat banyak memang opini yang dilemparkan. Siti Hawa, seorang ibu rumah tangga menginginkan upah buruh perempuan bisa lebih sejahtera. “Lihat para wanita petugas kebersihan di kota ini. Mulai pukul empat pagi mereka sudah bekerja. Tapi upah yang mereka dapatkan masih jauh dari harapan,” kata ibu berjilbab ini.
Sedangkan Samsudin Ginting mengidolakan pemimpin bermoral, baik, jujur, tidak obral janji, dan bekerja berdasarkan potensi yang ada. “Seorang pemimpin harus patuh terhadap Undang-undang Dasar 45. Itu tak boleh ditawar!” pungkasnya.
Ya! Sangat banyak usulan yang dilontarkan. Seperti yang diusulkan wartawan koran ini, pemimpin ke depan yang diinginkan juga harus memikirkan para abang becak yang selama ini nasibnya selalu dikebiri. Pasalnya, empat tahun lalu ada wacana hendak memberangus keberadaan becak BSA dari kota ini. Parahnya, wacana pemberangusan itu malah datang dari wakil rakyat yang notabene dipilih oleh rakyat.
Padahal jika merunut sejarah, becak BSA hadir di kota ini sebagian besar karena dibawa dari Pulau Jawa dengan kapal Tampomas oleh anak-anak Siantar. Hanya sebagian kecil yang ditinggalkan Belanda. Artinya, jika dikelola dengan profesional, becak BSA tentu bisa menopang dunia pariwisata Siantar dan Simalungun sebagai pintu gerbang menuju kota turis, Parapat. Secara langsung punci-pundi PAD kota ini semakin menggunung.
Harus diakui, acara dialog dan diskusi memang tidak berkembang. “Kita tidak perbolehkan kritik. Kita akan batasi. Kita hanya ingin mendengar apa yang diinginkan. Memang orang yang hadir belum tentu mewakili aspirasi warga Siantar dan Simalungun. Tapi setidaknya kita sudah punya pegangan,” kata Karyanta sembari berjanji hasilnya akan dirangkum menjadi suatu visi dan misi kepemimpinan yang memang bermanfaat untuk ditindaklanjuti pada diskusi selanjutnya.
“Siantar memang punya potensi sebagai kota jasa. Namun, untuk memberdayakannya tidak bisa lepas dari siapa pemimpinnya. Ke depan kita perlu rumuskan bagaimana kriteria seorang pimpinan di Kota Siantar dan Simalungun ini. Bisa jadi kita akan buat seminar dengan mengundang pakar-pakar,” sambungnya.
Diskusi memang tanpa silang pendapat. Tapi harus diakui banyak pemikiran tentang sosok pemimpin yang diidam-idamkan. Mulai harus bermoral, jujur, cerdas, tidak korup, harus dekat dengan rakyat, dan lain sebagainya. Begitupun, diskusi belum mengerucut, belum diketahui kemana Siantar ini hendak dibawa. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar